Sedikitnya 368 murid yang terbagi pada tingkatan Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) di Sidoarjo, Minggu (22/1) rame-rame mengapresiasikan bakatnya dalam bentuk menggambar dan mewarnai.
Acara yang dihelat di Pasar Seni Mutiara Perum Pondok Mutiara sejak pagi itu sudah rame dijubeli para peserta. Tidak ketinggalan, para orang tua yang ikut mengantar putra-putrinya berlomba itu juga berjubel menyaksikan anaknya yang sedang mengekspresikan bakatnya.
Dari pemandangan yang tak biasa itu sedikit memberikan dukungan yang positif atas perkembangan dan kelangsungan Pasar Seni tersebut. Hal itu dikarenakan, Pasar Seni Mutiara yang dirilis sejak lama itu kesehariannya sepi pengunjung.
“Selain untuk memberikan tempat mengapresiasikan anak-anak dalam forum di luar pendidikan formal, juga agar tempat ini (Pasar Seni Mutiara) bisa di ketahui masyarakat luas,” terang Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda), Nungky.
Dirinya menjelaskan, jika keseharian masyarakat pengunjung yang datang di Pasar Seni Mutiara bisa dihitung dengan jari, ini menjadi tugas Dekesda untuk ikut membangkitkan Pasar Seni. Caranya, dengan menciptakan even-even penting yang diselenggarakan di Pasar Seni. “Seperti halnya Festival ini,” Terangnya.
Nungky menambahkan, acara yang dihelat dengan prakarsa Dekesda ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan untuk memperingati hari jadi Kabupaten Sidoarjo ke 147.
Sementara untuk memberikan nuansa peringatan hari jadi, dalam festival yang digelar sehari itu masyarakat juga diikutsertakan dalam mengapresiasikan minatnya dalam bentuk coretan kanvas di sepanjang kain berukuran 147 meter. Apresiasi itu, lanjut Nungky akan di berikan batas waktu yang sudah ditentukan, yaitu selama 147 jam mulai pukul 09.00 WIB.
“Apresiasi masyarakat bisa menyusul setelah Pak Win dan Ibu Emy membuka dan memberikan apresiasikan coretannya yang pertama,” ujarnya.
Menariknya, pada acara festival menggambar dan mewarnai tersebut tidak sedikit dari peserta yang dibantu oleh orang tuanya. Pemandangan itu menjadi suatu hal yang biasa. Karena panitia memberikan batas waktu untuk mengumpulkan hasil gambaranya.
Batas itu yang menjadi para orang tua ikut andil dalam karya sang anak. Bahkan, tak sedikit dari para orang tua yang gemas melihat anaknya yang terlalu lamban. Melihat anak yang lamban, naluri seorang ibu untuk membantupun muncul. Sontak, hasilnya pun berkat kerja bareng, antara anak dan orang tua.“Kalau gak gini lamban minta ampun mas,” ujar salah satu orang tua peserta. (Sumber : Delta News Room/wem)
Dikirim pada hari Rabu, 25 Jan 2006 13:37 WIB