SUASANA tegang sangat terasa ketika sebuah pertunjukan debus dipertontonkan di depan sejumlah komunitas seniman maupun pejabat teras di wilayah Kabupaten Sidoarjo, tak terkecuali Bupati Sidoarjo Win Hendarso yang duduk di deretan kursi terdepan.
Orang nomor satu di Sidoarjo itu tampak serius menyaksikan atraksi debus yang dimainkan oleh Gus Kholiq Alhaj beserta komunitasnya. Pertunjukan hari Selasa (4/2) itu berlangsung di Pendopo Delta Krida Budaya, Kantor Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Sidoarjo.
Atraksi debus yang tergabung dalam sebuah grup musik Alga Nada, yang berarti alunan nada alam gaib dari daerah Waru, itu tak jauh berbeda dengan atraksi debus lainnya. Seperti debus dari daerah Banten yang memang kesohor sebagai kandangnya pemain debus di negeri ini.
Permainan debus yang membuat orang miris ketika menyaksikannya menjadi salah satu tontonan yang menarik sekaligus warna tersendiri dalam acara seremonial pengukuhan Dewan Kesenian Sidoarjo (DKS) periode 2001-2004 oleh Bupati Sidoarjo.
Serangkaian atraksi debus yang membuat bulu kuduk merinding itu antara lain mempertontonkan kekebalan tubuh seseorang setelah diberikan asma’ (minuman air putih setelah dikasih doa-doa oleh Gus Kholiq-Red). Untuk mempertontonkan keahliannya memainkan atraksi debus itu, Gus Kholiq meminta empat orang untuk tampil di atas panggung. Namun, hanya tiga orang yang bersedia tampil.
Sambil bertelanjang badan, ketiga orang yang sudah menenggak minuman air putih berjampi-jampi itu oleh Gus Kholiq satu per satu ditebas dengan pedang tajam. Akan tetapi, walau ditebas, tubuh mereka tak tergores sedikit pun. Meski ketiga orang itu sudah minum air berasma’, mereka tetap tampak ketakutan dan deg-degan. Hal itu terlihat dari ekspresi wajah salah seorang di antara mereka.
Selesai mempertontonkan adegan tebas tubuh, Gus Kholiq pun menyuguhkan sebuah atraksi yang tak kalah mencekamnya dengan aksi tebas-menebas tubuh itu. Mata pedang yang tajam itu pun oleh Gus Kholiq dipakai untuk menggorok leher ketiga orang, salah satunya adalah seorang perupa senior, Harryadjie BS alias Bambang Telo.
Ketajaman pedang itu pun tak mampu melukai leher ketiga orang itu dan, barangkali, itulah sebuah atraksi dari sebuah pertunjukan debus itu sendiri. Menariknya, atraksi debus yang dipertontonkan Gus Kholiq ini tak sekadar menyuguhkan adegan-adegan seru, melainkan menyajikan pula sajian musik pengiring atraksi debus yang membawa penonton ke alam gaib.
SEBELUM suguhan atraksi debus, para undangan pengukuhan DKS disuguhi sebuah tarian bertajuk “Banjar Kemuning” oleh Sanggar Tari Delta Trivikrama dan paduan suara yang antara lain menghadirkan sebuah tembang bertitel Women in Love. Acara mencapai akhir setelah pertunjukan teater.
Ketika pertunjukan teater digelar, Bupati Sidoarjo tak menyaksikan karena sudah pulang sehingga pertunjukan nyaris tanpa penonton yang berarti. Padahal, komunitas teater bersangkutan telah mempersiapkan diri secara maksimal hingga larut malam hanya untuk memarakkan pengukuhan pengurus DKS oleh Bupati.
Pertunjukan debus, tari, dan teater telah rampung. Kini tinggal sederetan agenda sekaligus program kerja berkesenian dan berkebudayaan dari DKS yang ditunggu-tunggu dan dinantikan warga masyarakat, terlebih penikmat seni pertunjukan di Kota Petis ini.
Bupati Sidoarjo Win Hendarso pada kesempatan pengukuhan pengurus DKS mengungkapkan kehendaknya untuk membangun sebuah gedung kesenian. Lontaran ide membangun gedung kesenian itu spontan mendapat sambutan hangat dari kalangan seniman yang hadir.
“Potensi kesenimanan di Sidoarjo sangat besar dan seniman yang berkiprah di Surabaya sebagian besar tinggal di Sidoarjo,” ujarnya.
Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Timur Dr Setyo Yuwono Sudikan mengungkapkan, mengatur seniman itu sulit, malahan ada pepatah “mengatur seniman sama sulitnya mengatur orang gila”. “Misi utama Dewan Kesenian Jawa Timur, termasuk Dewan Kesenian di daerah-daerah, adalah bersama-sama memajukan kesenian di Jawa Timur ini,” katanya.
Yuwono lebih jauh mengatakan, sarana dan prasarana berkesenian sampai sejauh ini belum mencukupi dan memadai karena itu keinginan Bupati Sidoarjo untuk membangun gedung kesenian patut mendapat apresiasi. “Gagasan membangun gedung kesenian di Sidoarjo patut kita sambut gembira,” ujarnya.
Lontaran keinginan membangun gedung kesenian janganlah sekadar manis di bibir, hanya untuk melegakan “sementara” waktu komunitas seniman. Dan, jika saja kota hinterland Surabaya ini sungguh-sungguh merealisasikan dan memiliki gedung kesenian, terasa lengkaplah kota ini dengan sarana dan prasarananya. Sebab, pelbagai fasilitas olahraga, seperti GOR Delta yang cukup megah, telah mereka punyai. Dan, tentunya tinggal gedung kesenian yang representatif dan mencitrakan kehidupan berkesenian dan berkebudayaan yang belum bercokol.
Bila saja gedung representatif untuk ruang berkesenian terwujud, lalu bagaimana dengan komunitas senimannya? Kerja kreatif dan inovatif adalah bagian dari kesenimanan, hal itu berarti pula tak ada kata lain untuk tidak berkreativitas dan berkarya. (TIF)
Kompas, Jumat, 07 Februari 2003