Sejak tahun 1998, ketika Imam Utomo kali pertama menjabat Gubernur Jawa Timur, setiap tahun memberikan penghargaan kepada seniman dan budayawan Jawa Timur yang berjasa, berprestasi dan berdedikasi pada dunia seni budaya. Sebelumnya memang sudah pernah ada penghargaan Gubernur, namun baru dalam era Imam Utomo dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahun tanpa ada yang terlewat sekalipun. Beruntung ketika Gubernur berganti dengan Soekarwo, tradisi ini berlanjut kembali.
Kriteria Penghargaan Gubernur Jawa Timur itu adalah sebagai berikut;
1. Prestasinya dalam bidang kesenian.
2. Dedikasinya dalam menekuni kesenian
3. Kontribusi sosiokulturalnya dalam bidang seni dan budaya.
Tahun 1998 hanya dipilih 2 (dua) seniman. Tahun berikutnya meningkat jadi 4 (empat) seniman. Tahun 2000 menjadi 6 (enam) seniman. Dan ternyata sejak tahun 2001, dari 10 (sepuluh) seniman budayawan yang mendapat penghargaan, setiap tahun selalu ada seniman Sidoarjo yang beruntung. Kecuali, tahun 2006. Berikut ini adalah nama-nama mereka:
Tahun 2001 :
Henri Nurcahyo, tinggal di Jalan Bungurasih Timur 40, penulis kesenian, aktivis seni budaya dan lingkungan hidup. Lahir di Lamongan, 22 Januari 1959, aktif di dunia kesenian sejak tahun 1977 di Yogyakarta, ketika kuliah di FKH UGM. Kembali ke Surabaya tahun 1982, aktif di berbagai kesenian, menjadi wartawan di Memorandum, kemudian secara khusus menulis kesenian di Surabaya Post sejak tahun 1986-1989, berpindah ke beberapa media massa, sambil terus aktif dalam berbagai kegiatan kesenian, diantaranya Festival Seni Surabaya (FSS), Festival Budaya Jatim, Festival Adhikara dan sebagainya, sebagai penggerak dan pengamat aktif.
Banyak menulis di berbagai media, juga pengantar pameran lukisan dan pergelaran. Juga menerbitkan buku kesenian, seperti: 1. Sketsa, 2. Seni Lukis Surabaya, 3. Koempoel The Maestro, 4. Ambang Cakrawala (Monografi Seni Lukis Amang Rahman), 4. Tantangan Perupa, 6. Problematika Seni Lukis Kontemporer, 7. Dunia Bunga Nana Tommy, 8. Dunia Bahari Mozes Misdy dan sejumlah buku-buku lain diluar seni rupa, (Among Roso Imam Utomo, Memberdayakan Masyarakat Desa, Kesaksian Seorang Kepala Daerah), termasuk dua buah buku olahraga, dan menjadi editor buku (Surat-surat Terbuka Seorang Pelaut, Konservasi Budaya Panji, Natuna Kapal Induk Amerika).
Tahun 2002 :
Munali Fatah (alm), tinggal di Banjar Kemantren, Buduran, seniman ludruk, pencipta gaya tari Remo yang menjadi pelajaran pokok di SMKI (sekarang SMKN IX), mata kuliah di STKW Surabaya, setelah sebelumnya dikembangkan di IKIP Negeri Surabaya (Unesa). Munali bahkan ikut merintis berdirinya SMKI, Jurusan Tari di IKIP Negeri Surabaya dan juga STKW.
Lahir di Sidoarjo, 17 Mei 1924, sudah mulai aktif dalam ludruk sejak tahun 1938, pernah satu gerakan pembela kemerdekaan bersama ikon ludruk Cak Durasim yang legendaris itu. Tahun 1945-1950 menjadi tentara dengan tugas khusus sebagai Alap-alap, yaitu menyamar sebagai pemain ludruk, masuk kota dan merampas harta serdadu Belanda untuk kemudian diberikan pada pejuang RI. Terakhir bergabung dengan ludruk RRI Surabaya dan tahun 1983 pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang justru bersamaan dengan turunnya SK pengangkatannya sebagai PNS setelah mengabdi selama 22 tahun.
Umi Kulsum, pemain ludruk yang terkenal pada masanya itu, pernah menjadi istri Munali, sebelum akhirnya bercerai tahun 70-an. Semasa hidupnya, Munali bagaikan kamus berjalan dalam persoalan ludruk dan seni tradisi. Munali pula yang mengkritisi busana khas Kabupaten Sidoarjo yang kemudian mengajukan usulannya sendiri berdasarkan pengetahuannya. Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi (PLKJ) pernah memberikan penghargaan tersendiri dengan hadiah dari Gubernur Jawa Tengah, serta penghargaan oleh panitia Festival Cak Durasim tahun 2002.
Soedarso (alm). Pernah dikenal sebagai Pelukis Istana karena banyak melukis dan menjadi kesayangan Bung Karno dan keluarganya. Sejak tinggal di desa Lebo, Jalan Panglima Sudirman, memang layak menjadi kebanggaan Sidoarjo. Sayang tidak berapa lama kemudian pelukis tua yang legendaris ini meninggal dunia. Lahir tahun 1914 di Adjibarang, Banyumas, bapak delapan anak, pernah mengalami masa kejayaan sebagai pelukis seangkatan dengan Affandi, Dullah, Sudjojono, dengan membentuk Empat Serangkai, disamping juga tergabung dalam Pusat Tenaga Rakyat bagian kebudayaan.
Ketika Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) didirikan di Jogjakarta, Soedarso sempat mengajar selama beberapa tahun. Namun jiwa petualangannya membawa dirinya menjelajah kota demi kota, hingga akhirnya menetap di Sidoarjo, menghabiskan masa tua hingga meninggal dunia.
Tahun 2003 :
Hening Purnamawati, lahir di Cimahi, Jawa Barat, tinggal di Gedangan, pelukis. Dikenal sebagai salah satu perempuan perupa potensial Indonesia. Meski jarang pameran tunggal, namun pameran bersama yang bergengsi sudah berkeliling ke berbagai negara. Memang aktivitasnya nyaris tidak pernah dilakukan di Sidoarjo. Hening tergolong pelukis atau seniman yang hanya kebetulan bermukim di Sidoarjo. Namun setidaknya, keterkenalan dan aktivitasnya di level nasional bahkan di mancanegara, mau tak mau menyebut Sidoarjo sebagai tempat tinggalnya. Dengan kata lain, Hening tergolong seniman yang ikut serta mengharumkan nama Sidoarjo.
Sejak lulus dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tahun 1987, langsung masuk ke Surabaya dan menggelar pameran tunggal di Pusat Persahabatan Indonesia Amerika (PPIA) tahun 1988. Sejak itu pameran demi pameran diikuti dalam skala lokal, regional hingga keliling dunia. Penghargaan kali pertama diperoleh tahun 1981 dari ASRI Yogyakarta, penghargaan karya terbaik seni lukis dari ISI tahun 1987, dan 10 karya terbaik seni lukis Forum Perupa Muda Surabaya (1989). Sementara dalam kompetisi seni lukis Indonesian Art Awards versi YSRI – Phillip Morris tahun 1994, karya Hening tercatat dalam 10 besar. Dua tahun kemudian (1996) penghargaan karya terbaik. Juga sebagai Tokoh Populer Berprestasi Jawa Timur dalam bidang seni lukis dari Surabaya Enterprise Harian Surabaya Post (1996), Penghargaan dari Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya RI (1998).
Bersama dengan suaminya yang juga pelukis, Rilantomo, tinggal di Taman Paris I/16 Perum Puri Surya Jaya, Gedangan. Tlp. 031 8913100
Tahun 2004 :
Malik BZ, tinggal di Kureksasi, Waru, seniman musik, komposer, adalah seniman yang menekuni seni musik selama puluhan tahun, pencipta lagu Melayu yang lumayan produktif. Lagu “Keagungan Tuhan” adalah salah satu ciptaannya yang dipopulerkan Ida Layla dan menjadi legenda, hingga dinyanyikan ulang oleh Kris Dayanti. Tahun 1994 Malik diundang menerima penghargaan dari Kementrian Kebudayaan Belia dan Sukan negara Brunei Darussalam, dilanjutkan memberikan workshop mencipta dan menggubah lagu di Brunei dan Malaysia.
Lahir di Surabaya dengan nama Abdul Malik Buzaid, 31 Desember 1946, mengawali bermusik sejak usia 10 tahun saat ikut-ikutan main gambus Al Ittihad di Sepanjang bersama Ali Alatas. Pendidikan formalnya hanya bertahan sampai tingkat Madrasah Alisah (SMA), itupun tidak tamat, namun ditebusnya dengan belajar sendiri kursus Bahasa Belanda dan bermusik hingga mahir memainkan berbagai alat musik khususnya instrument tiup. Aktivitas terakhir memberikan les privat organ dan piano di rumahnya:
Jl. Flamboyan II No 21 Kureksari, Waru, Sidoarjo. Telp: 031 8535023
Widodo Basuki, sastrawan Jawa, wartawan majalah bahasa Jawa Jayabaya sejak 1993, pernah menerima hadiah sastra Jawa Rancage sebanyak dua kali. Beberapa kali menerbitkan buku disamping juga menulis cerita anak, puisi Jawa, cerita cekak (cerpen), cerita roman wayang, cerita rakyat serta cerita bersambung. Penghargaan lain yang diterimanya misalnya penulisan koperasi, juara naskah geguritan, lomba cerita cekak, juara lomba naskah dongeng, dan sebagainya.
Selain aktif di sastra, sarjana seni rupa ini juga pernah aktif di teater dan seni rupa (Kelompok Seni Rupa Bermain – KSRB), fragmen bahasa Jawa di TVRI, siaran di RRI, dan pameran lukisan di beberapa tempat. Lahir di Trenggalek, 18 Juli 1967, tinggal di Sukolegok, desa Suko, Kec. Sukodono. Telp: 0818 0304 8066
Tahun 2005 :
M. Thalib Prasojo (alm), tinggal di Perumahan Airlangga V/16, Celeb, pelukis, budayawan, pendiri Padepokan Akar Rumput. Lahir di Bojonegoro 17 Juni 1931. Dikenal juga paranormal dan Kejawen. Pelukis sketsa yang rajin. Lukisannya mengawinkan budaya Islam dan Jawa. Organisasi: Dewan Kesenian Surabaya. Dikenal juga sebagai pematung, dengan beberapa karya monumen yang telah dibuatnya, termasuk pesanan Korem 084 Surabaya dan Akabri Laut, dan kompleks monumen Tugu Pahlawan Surabaya. Bahkan hingga menjelang wafatnya masi menyisakan karya terakhir patung Sura dan Baya di GOR Bung Tomo Surabaya, dan sebuah relief yang belum terselesaikan. Prestasi: Penghargaan Gubernur Jatim 2005. Penghargaan Budaya Pusat Lembaga Kebudaaan Jawi (PLKJ) Surakarta (2005). Alamat: Taman Erlangga V-16, Celep, Sidoarjo, M. Thalib meninggal dunia Rabu tengah malam, 4 Agustus 2010.
Tahun 2006 ;
(tidak ada seniman Sidoarjo yang terpilih)
Tahun 2007 :
Subiyantoro, lahir di Jember 1964, tinggal di Bluru Permai BH 2, seniman musik, aktivis seni tradisi. Posisinya sebagai PNS Dinas Informasi dan Komunikasi (Infokom) Jatim tidak menghalanginya untuk banyak menciptakan karya seni. Soebiyantoro sering memenangkan festival seni musik tingkat regional dan nasional, termasuk Lomba Cipta Lagu Daerah tingkat Nasional yang mengangkat peristiwa lumpur Lapindo, serta berkeliling di berbagai negara.
Disamping menggarap iringan tari, suami koreografer Sri Mulyani ini juga melakukan kolaborasi musik tradisi dengan pendekatan nontradisi, termasuk menggarap kentrung dengan pendekatan baru. Alumnus SMKN IX (d/h SMKI) Surabaya tahun 1984 ini beberapa kali mendapat penghargaan sebagai piñata musik terbaik tingkat regional dan nasional. Potensinya sebagai dalang, agaknya menurun pada anaknya sebagai dalang cilik.
Tahun 2008 :
Mashuri, sastrawan, penulis novel, aktivis kesenian, Komite Sastra Dewan Kesenian Jatim. Namanya mencuat sejak mendapat penghargaan sebagai pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2006. Lahir di Lamongan, 27 April 1976, jebolan Pondok Pesantren di Lamongan, lulusan jurusan Sastra Universitas Airlangga (2002), aktif berkesenian di Teater Gapus dan Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP), meneruskan studi filsafat di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Karya puisinya banyak tersebar di media massa dan buku antologi, juga menulis dalam bahasa Jawa. Sejak 1999 bekerja di harian Memorandum Surabaya dan tahun 2006 di Balai Bahasa Surabaya yang berkantor di Sidoarjo.
Tahun 2009 :
Syaiful Hajar, sebetulnya lebih banyak beraktivitas di Surabaya, namun ketika tinggal di kampung seni Pondok Mutiara, mendapatkan Penghargaan Gubernur Jatin. Aktivitas keseniannya sebagai pelukis yang menekuni seni grafis, penyair, aktivis kesenian, mendirikan Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB). Lahir di Surabaya, 30 Agustus 1959, pernah kuliah di IKIP Negeri Malang, mengajar seni rupa di SMP, aktif mengikuti berbagai event seni rupa seperti FSS, Biennale Jatim, Biennale Jogjakarta, Pameran Besar Seni Rupa Indonesia di Jakarta dan sebagainya.
Tahun 2010:
Bambang Sujiyono (alm), tinggal di perumahan Rewwin, Waru, Jalan Garuda 25. Lebih dikenal dengan panggilan BS, akronimnya, mantan anggota DPRD Jatim (1997–1999), pendiri dan ketua pertama Bengkel Muda Surabaya (BMS), ketua Lembaga Seni Budaya Muhammadiyah Jatim, meninggalkan “warisan” berupa Tim Penghargaan Seniman Jatim. Kelahiran Ponorogo, 13 Februari 1948, aktif di DPW PPP Jatim dan PW Muhammadiyah, salah satu pendiri FKPPI Jatim, mantan sekretaris pribadi Ketua DPRD Jatim (waktu itu) Blegoh Sumarto. Juara Lomba Deklamasi tingkat Jatim (1972), mantan juara yudo kelas ringan tingkat mahasiswa (1970), pernah kuliah di UPN Veteran Surabaya dan Akademi Bank Indonesia Yogyakarta, aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), sempat menjadi PNS hanya beberapa bulan di Dispenda (1981), mendirikan Dewan Maritim Jatim (dan sempat menjadi pemimpin umum tabloid Indo Maritim), penasehat ahli Bappeprov Jatim, dan lebih banyak lagi sebagai man behind the screen, termasuk motor tim sukses Gubernur Jatim Soekarwo.
Agus Heri Sugianto. Sehari-hari sebagai guru kesenian di SD sekaligus dosen luar biasa STKW Surabaya, nama Agus atau Agustinus dikenal sebagai koreografer yang sering menangani pertunjukan untuk kepentingan festival. Dan hebatnya, dalam garapan tangan dingin lelaki kelahiran Madiun ini, sering menang dalam festival, sehingga Agus sering diledek sebagai „koreografer spesialis festival“. Alumnus STKW Surabaya ini tergabung sebagai pelatih dalam Raff Dance Company bersama Arief Rofik, banyak mencipta karya tari, khususnya untuk anak-anak, sering menjadi pengamat/juri festival seni pertunjukan/tari. Di rumahnya di kawasan Semambung, Agus juga mendirikan Sanggar Tari „Sekartaji“. Agus lahir di Madiun 26 April 1963, tinggal di Semambung. Kontak: 081 5502 8785
(sumber: Buku Potensi Kesenian Sidoarjo)